Bullying Terhadap Penderita Albino

Clinton Abdullahi kesal. Di suatu siang, saat ia pulang dari sekolah, ia diolok-olok oleh sekumpulan orang karena ia seorang albino berusia dua belas tahun dari Nigeria. Yup, begitulah gambaran sulitnya kehidupan penderita albino. Diperlakukan berbeda, dicela, atau minimal mendapat tatapan aneh dari orang disekitarnya. Padahal, mereka juga manusia biasa, sama seperti kita.Nggak berhenti sampai disitu, penderita albino juga sering dikucilkan dari pergaulan. Diperlakukan berbeda dalam bidang akademik dan pekerjaan, karena dianggap nggak mampu. Bahkan, penderita albino di beberapa negara di Afrika mengalami masalah serius. Di negara-negara tersebut berkembang mitos bahwa bagian tubuh albino bisa membawa keberuntungan. Mereka juga percaya bahwa melakukan hubungan seks dengan wanita pengidap albino, konon bisa menyembuhkan HIV/AIDS. Oleh karena itu, para albino dibunuh, diperkosa, dan dipotong bagian tubuhnya. Ngeri, ya?
Fakta tadi jelas menggambarkan bahwa para albino menderita tekanan berat dari luar dan juga dalam dirinya. Sulit untuk para albino menerima kenyataan bahwa kondisi fisik mereka berbeda dan dianggap aneh oleh sekitarnya. Oleh karena itu, mulai sekarang yuk, kita lebih peduli terhadap keberadaan mereka. Misalnya seperti, berteman dan menerima keberadaan mereka apa adanya. Sebarkan juga pengertian ke orang-orang di sekitar kita, bahwa perbedaan fisik seorang albino, nggak membuat mereka jauh berbeda dengan kita, kok.
Muthia – Foto: IstimewaKlik juga yang ini: