Beli Barang Bajakan = Penjahat Terselubung

Menurut Wikipedia, pembajakan adalah kegiatan merampas barang atau hak orang lain. Walaupun hal itu termasuk dalam kategori kejahatan, tapi masih banyak orang yang cuek dengan hal ini. Kenapa, yah?
Kita pasti sudah sering banget mendengar seruan untuk menghentikan pembajakan. Tapi sayangnya sampai saat ini banyak dari kita yang nggak betul-betul sadar untuk menghentikannya. Bahkan ada yang menggunakan berbagai alasan untuk membenarkan penggunakan barang bajakan. Seperti…
Harga barang bajakan lebih murah
Betul banget! Barang-barang bajakan itu memasang harga yang jauh lebih murah dari harga aslinya. Tapi kalau berbicara soal kualitas, please deh! Kualitasnya jelek banget. CD bajakan biasanya suaranya nggak oke, buku bajakan tulisannya jelek kayak hasil fotokopi. Kalau sudah begitu, yang merasa nggak puas siapa? Kita juga, kan?
Barang bajakan lebih gampang didapat
Memang benar ada beberapa barang seperti CD dan buku yang karena satu dan lain hal versi aslinya nggak masuk ke Indonesia. Tapi coba ubah pola pikirmu. Hari gini kan, sudah banyak toko-toko on line yang bersedia mengirimkan barang-barang itu langsung ke rumahmu. Bahkan, nggak jarang mereka memberi tambahan tanda tangan dari artisnya langsung, lho. Kan keren kalau punya sesuatu yang beda dari orang-orang punya dan versi aslinya pula. Canggih nggak, tuh!
”Biarin aja. Toh si artisnya sudah kaya”
Hmm… Pola pikir yang seperti ini nih, yang harus dibuang. Kalau satu atau dua orang yang berpikir seperti itu sih, mungkin dampaknya belum terasa kepada sang artis. Tapi kalau 1000 orang lebih juga melakukan hal yang sama, pasti si artis kesalnya bukan main. Soalnya membuat sebuah karya itu nggak gampang, lho. Dengan membeli karya asli, itu berarti kita menghargai jerih payah yang ia perbuat.
Dan apakah kita yakin kalau sang artis memang telah benar jadi kaya raya? GADIS mau cerita sedikit, nih. Hari Minggu, 18 Juli 2010 kemarin GADIS datang ke launching buku terbaru Andrea Hirata di Kemang Village, Jakarta. Sang penulis Laskar Pelangi yang tadinya gembira dan antusias berbicara tentang buku dwilogi Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas ini tiba-tiba jadi sedih saat menerima sebuah SMS. Ia diberitahukan kalau buku yang baru terbit beberapa minggu itu sudah ada versi bajakannya di Stasiun Bogor.
“Padahal hasil royalti buku ini mau saya pakai untuk membangun sekolah di kampung saya,” ujar Andrea dengan putus asa. Wah, kalau kita sampai membeli buku bajakan itu, artinya kita sudah merampas hak sekolah teman-teman di Belitung, dong? Tanpa sadar, kita juga sudah jadi penjahat, dong?
Makanya, ayo kita stop pembajakan dari sekarang! (Adisti.Foto: Adisti)