CERPEN CANTIK CITRA - Real World with Real People!
Ditulis oleh: Pevita Pearce - bintang iklan, pemain film
Pulang sekolah, Keisha mengajak anggota The Chikitas untuk ngopi-ngopi di kedai kopi franchise asal Amrik, dekat sekolah mereka.
“Ada kejutan buat kalian,” katanya sok misterius.
“Apaan?” Cathy dan Maura bertanya berbarengan.
Gw pengen ngajak kalian melakukan treatment murah-meriah-menyenangkan yang bisa bikin kulit tambah cantik!” kata Keisha dengan bersemangat sambil mengoleskan Citra hand and body lotion di tangannya.
“Huuuuh....” Cathy langsung melengos lagi. “Maksud lo kita beli Citra di mini market terdekat?”
“Ya bukan, lah,” sahut Keisha sambil tertawa geli. “Pokoknya nanti sore kalian akan tahu!”
”Tapi kenapa harus di cafe itu? Kita kan nggak ada yang minum kopi, Kei!” protes Maura.
“Sssttt… ngopi-ngopi kan nggak harus beneran ngopi.Lo bisa minum green tea kesukaan lo, atau minum hot chocolate.”
“Kalo begitu kita nongkrong di tempat lain aja,” potong Maura.
Keisha tampak sebal. “Duh! Kenapa sih kaliaaan…Sejak kapan orang pergi ke café gara-gara pengen minum kopi? Orang pergi ke cafe itu biar keliatan hits” katanya sok tahu.
“Pokoknya nanti jam 4 yaaaa!” sahutnya sambil menghilang. “Gue traktiiiir!”
**
Di waktu yang dijanjikan, secara mengejutkan, Keisha yang biasanya miss telat, sudah duduk menanti dua temannya. “Silahkan pesan,” katanya dengan senyum manis mencurigakan.
“Ayo buruan, gue mau latihan nih jam 5,” Maura menyedot hot chocolate milik Cathy yang lagi asyik update status lewat smartphone-nya, sementara Keisha sibuk mengabarkan ke seluruh dunia bahwa dia sedang ngopi-ngopi bersama dua sahabatnya; Cathy dan Maura di café paling hits saat ini.
Maura jadi bete. “Please deh kalian berdua, bukannya kita udah sepakat untuk nggak mainan smartphone kalo lagi nongkrong bareng… nggak sopan tahu!”
“Sebentar, foto dulu,” kata Keisha sambil mengarahkan smartphone-nya sedemikian rupa, agar logo dari café hits tertangkap kamera, lalu meng-upload-nya segera.
Maura mendengus makin sebal.
“Itu sebabnya gue males bergaul di dunia maya,” katanya sambil mengangkat tas sekolahnya, siap meninggalkan Cathy dan Keisha. “Orang jadi lupa bagaimana berinteraksi yang sopan di dunia nyata, karena terlalu asyik tenggelam di dunia maya.”
“Wait, wait, wait… kok lo ambekan… Begitu aja amarah,” Keisha membujuk Maura, memintanya duduk kembali.
“Oke, oke, gue janji nggak akan update status untuk beberapa menit ke depan ini…” kata Keisha sambil memasukkan smartphone-nya ke dalam tas.
“Gue juga,” lanjut Cathy sambil menjauhkan smartphone-nya.
Tapi, tahu-tahu terdengar bunyi notification. Baik Keisha maupun Cathy segera mengecek smartphone mereka masing-masing dan kembali tenggelam dalam dunia maya mereka; menjawab pesan-pesan, mengomentari status yang menarik.
Tanpa berkata apa-apa, Maura meninggalkan Cathy dan Keisha.
“Waduh, dia marah beneran…” Keisha melongo melihat pungung Maura yang menjauh. “Elo sih!”
“Lho, kok gue! Kan lo juga update status tadi,” balas Cathy.
“Soalnya dia nggak pernah bergaul di dunia maya, jadinya nggak bisa menghayati gimana asyiknya bergaul di social media. Kita harus maklum,” kata Keisha.
Cathy menggeleng. “Bukan salah Maura, darling. Kita yang harus berubah. Update status atau messenger-an pas lagi bersama orang lain sama aja nyuekin orang itu, dan itu nggak sopan.”
Keisha mengangkat bahunya. “Tapi kita kan nggak mungkin menarik diri dari social media begitu saja. We’re in 2010 and we’re living in a social media, practically…”
“We’re living in real world, darling. With real people,” potong Cathy. “Kejadian ini bahkan membuat gue berpikir untuk mengurangi aktivitas gue di dunia maya dan lebih banyak menghabiskan waktu di dunia nyata.”
“Hah? Yang bener ajaaa!” Keisha nggak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Lo berlebihan deh Cath.”
Cathy mengangkat bahunya. “Mungkin harus begitu, atau kita akan kehilangan semua teman kita di dunia nyata.”
“Ah…Hanya yang nggak main di dunia maya,” potong Keisha enteng.
Cathy melotot mendengarnya. “Lo bilang Maura nggak penting?”
“Bukan begitu…” Keisha jadi nggak enak hati. “Kalian berdua adalah orang terpenting dalam hidup gue,” kata Keisha cepat-cepat.
“Yang kita perlu lakukan hanya menyeimbangkan porsi main kita;menyeimbangkan antara yang maya dan yang nyata…nggak perlu meninggalkannya sama sekali, kan?”
Cathy tidak menjawab, masih tampak bete.
“Gue bahkan mengajak kalian berdua ke sini karena mau traktir kalian treatment ke Rumah Cantik Citra sebagai ucapan terima kasih gue.”
“Ucapan terima kasih?”
“Iya. Karena kalian udah bantuin project biologi gue kemarin daaaaaan karena kalian sudah jadi sahabat terbaik gue.”
Cathy melongo mendengarnya. “Yang benar…?”
“Iya, masak gue bohong. Ini ungkapan terima kasih nyata, bukan gaya dunia maya, bukan dalam bentuk emoticon atau ecard!”
“Oh so sweet…” Cathy langsung merangkul Keisha. “Kita harus pergi bertiga, Maura harus ikut!”
“Tentu saja dia harus ikut. Ide pergi bertiga ke Rumah Cantik Citra kan terinspirasi dari Maura dan kulit kusamnya hehehe...... kayaknya dia butuh di-scrubbing deh!” tutur Keisha lagi.
“Lebih tepatnya dia butuh pakai body lotion tiap hari!” tambah Cathy. “Gue gemes banget kalau lihat dia cuek aja latihan basket tanpa pakai body lotion ke kulitnya. Giliran sadar kulitnya tambah hitam dan kusam, baru deh panik. Padahal apa susahnya sih pakai Citra Lasting White Bengkoang Hand & Body Lotion. Paling juga 5 menit selesai.”
“Ya udah, sana gih telepon!”
“Ya elo aja, kok gue yang mesti telepon dia?”
“Lha, kan elo yang ngajakin.”
Keisha cemberut. “Males gue ngadepin orang ngambek.”
Cathy ketawa terbahak. “Tenang aja, dia pasti nggak akan ngambek lagi kalau tahu akan dikasih treatment gratis ke Rumah Cantik Citra!”
***
Nah, setelah baca ceritanya, tinggal klik di sini buat dapetin hadiahnya!