Your biggest enemy is
yourself.
Sebelum mengalaminya sendiri, aku selalu berpikir kutipan
ini hanya sekedar kutipan.
Musuh terbesarku muncul ketika aku ikut kursus selam. Sejak
dulu aku selalu terpesona sama laut. Tapi, baru belakangan ini muncul keinginan
untuk melihat lebih dalam ke bawah laut. Makanya, aku pun memutuskan buat
ikutan kursus selam.
Sebelum benar-benar terjun ke bawah laut, ada beberapa sesi kolam
untuk membiasakan diri dengan berbagai peralatan dan kondisi di bawah laut
nantinya. Di sinilah musuh besarku itu mulai mengendap-endap dan menakuti.
Dengan latar belakang penyakit asma yang aku punya sejak
umur 6 tahun, salah satu ketakutan terbesarku adalah kehabisan udara. Makanya,
berada di ruang sempit pun terkadang bisa sedikit menyiksa buatku.
Menyelam menuntutku bernapas lewat mulut dengan sebuah alat
yang disebut regulator. Sebenarnya prinsip ini sama dengan snorkeling yang
sudah sering aku lakukan. Ketika snorkeling, aku masih bisa melihat jelas
permukaan dan kapan saja bisa naik untuk mengambil udara. Tapi, berbeda dengan
menyelam. Selain kedalamannya, kita juga nggak diperbolehkan naik langsung ke
permukaan. Soalnya perbedaan tekanan yang langsung berubah bisa membahayakan
kita.
Alhasil, kepanikan terjadi di percobaan pertama dan beberapa
percobaan awal lainnya. Aku sempat terpaksa dipisahkan dari kelompok untuk
menenangkan diri. Padahal setelah dipikir-pikir lagi, kedalaman kolam yang
hanya 5 meter bukanlah masalah besar. Makanya, aku pun nekat mencoba lagi dan
perlahan-lahan mulai merasa nyaman di bawah air.
Ketika ketakutan itu muncul, dalam pikiran segera muncul
berpuluh-puluh tembok secara otomatis yang menghalangi kita dan mengatakan kita
nggak mungkin bisa. Tapi, begitu kita membuat langkah awal, tembok-tembok itu
bakal runtuh dengan sendirinya.
