Wonder Girls dan Nasi Tumpeng
23 June 2010 - 14:58 WIB    By : Yani Lauwoie
4

Tulisan ini bukan tindakan protes atau menjelekkan suatu pihak tertentu. Gue menulis ini karena merasa geli sendiri dengan kelakuan yang gue dan Asri lakukan saat meliput kedatangan Wonder Girls ke Jakarta kemarin.

Jadi begini ceritanya…

Pada Sabtu, 19 Juni 2010, Wonder Girls (WG) melakukan kunjungan ke Yayasan Sayap Ibu, Jakarta. Bersama Sony Ericsson, mereka memberikan sumbangan kepada yayasan tersebut. Di dalam yayasan sudah dibuat semacam panggung beserta dengan puluhan kursi yang menghadap panggung tersebut.

Sebagai bintang tamu, pastinya WG ini duduk di kursi paling depan, dong. Beruntungnya, gue dan Asri mendapatkan tempat duduk di baris kedua. Tepat di belakang kelima cewek cantik ini. Tepatnya lagi, gue duduk di belakang Lim dan Asri duduk di belakang Yenny.

Gue yang saat itu kebagian tugas memotret (sedangkan Asri menulis) berusaha mengabadikan tiap kejadian yang terjadi di atas panggung. Bukan cuma saat WG ada di atas panggung aja, tapi berbagai kegiatan lain yang ada di atas panggung, seperti pemberian kata sambutan dari pihak yayasan atau tari-tarian yang dilakukan oleh anak-anak yayasan, pasti gue foto.

Nah, kan agak susah tuh, motret sesuatu yang bergerak, biasanya hasilnya suka blur. Untuk mencegah hal tersebut, gue letakkan siku gue ke sofa di depan gue (which is sofa yang diduduki para personil WG). Tujuannya sih, biar tangan gue bisa lebih steady supaya fotonya nggak blur.

Dalam melakukan aksi ini, gue merasanya sih, tidak mengganggu sama sekali para personil WG. Gue tidak menyenggol, bahkan tidak memakai flash saat memotret. Tapi baru juga beberapa jepret, tiba-tiba bodyguard yang berdiri di samping kanan deretan kursi, memberi gue tanda kalau gue tidak boleh meletakkan siku gue ke kursi tersebut. Sebagai wartawan baik, gue nurut dong.

Acara pun berlanjut sampai pemotongan tumpeng dan para personil WG tersebut mendapatkan masing-masing satu piring nasi kuning dari tumpeng tersebut. Insting wartawan Asri langsung “bergerak”, dia pengen banget mendapatkan foto mereka sedang makan nasi kuning. Tapi gimana caranya? Kami ada di belakang mereka, sementara mau keluar dari sisi kanan kursi untuk motret dari depan, jelas tidak mungkin, di situ ada sang bodyguard yang tadi menegur gue. Sebelumnya, bodyguard ini juga sempat melarang Asri yang ingin keluar dari kursi tersebut untuk memotret dari depan. Ok, we are stuck!

Tapi gue tahu Asri resah, dia ingin banget mendapatkan berita WG makan nasi kuning tersebut. Akhirnya, nekatlah kami memanggil salah satu personilnya.

“Yenny… Yenny…” gue dan Asri memanggil-manggil Yenny. Sok akrab ceritanya. Tapi nggak ada reaksi sama sekali. Yenny tetap aja kelihatan asyik makan nasi kuningnya.

Sekali lagi gue dan Asri berusaha manggil, “Yenny… Yenny”. Lagi-lagi Yenny nggak bergeming. Gue mulai ragu. Jangan-jangan cara penyebutannya bukan “Yeni”, makanya dia nggak nengok-nengok. Duh! Malu aja kalau sampai salah nyebut. Tapi nggak mungkin salah, soalnya fans WG di belakang kami bilang cara nyebutnya memang seperti itu.

Geregetan karena Yenny nggak nengok-nengok, Asri melakukan aksi yang lebih nekat. Dia coleklah si Yenny itu. Begitu Yenny nengok, Asri langsung bilang, “Please look to that camera,” pinta Asri sambil nunjuk gue. Untung aja gue gue sudah siap siaga, begitu dia melihat ke kamera gue, langsung gue jepret. Klik! Yes, berhasil! Gue dapat foto Yenny lagi memegang sepiring nasi kuning sambil tersenyum.

Tapi apalah artinya foto tanpa ada cerita dibaliknya. Karena itu, Asri langsung menggunakan kesempatan tersebut untuk nanya-nanya sama Yenny. Dia bertanya gimana rasanya nasi kuning tersebut dan lain-lain. Untungnya, Yenny orangnya nyantai, dia kelihatan senang diajak ngobrol Asri. Malah dia sempat nanya balik sama Asri perihal nama makanan yang ada di dalam nasi kuning tersebut. Jadi saat di atas panggung Yenny sempat bilang kalau dia suka tempe, itu dari hasil nanya sama Asri, tuh. Hehehe…

Pastinya Asri senang banget karena akhirnya bisa mendapatkan berita yang dia mau. Tapi kesenangan tidak berlangsung lama, karena begitu Asri menyudahi chit chat-nya sama Yenny, tiba-tiba pundak gue ada yang menepuk. Begitu gue nengok, muka kencang sang bodyguard (bodyguard yang berbeda dari yang melarang gue meletakkan siku) dengan suara tegasnya bilang, “Dari sini sampai sana (dia nunjuk ke arah Asri), pindah semua ke belakang!”

Seperti maling yang ketangkap basah, gue nggak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti perintahnya. Siapa juga yang berani nolak perintah sang bodyguard yang tampak marah gitu. Dengan sok tenang gue, Asri dan Alin (wartawan Forsel) yang juga duduk dideretan ke dua, semuanya melangkah meninggalkan kursi kami dan pindah ke deretan kursi belakang.

Gue sadar ada berpasang-pasang mata yang melihat kejadian itu, tapi gue sok cuek aja. Angkat kepala tegak-tegak seolah-olah itu bukan kejadian memalukan. Meskipun dalam hati sih, malu juga. Diusir gitu, lho! Hahahaha…

Begitu sampai di deretan kursi belakang, gue dan Asri langsung ketawa ngakak. Iya iyalah si bodyguard itu marah. Wong kursinya kena siku gue aja nggak boleh, apalagi ini, tangan Asri sudah berani-beraninya nempel ke Yenny. Hahaha… “Nggak apa-apa, yang penting gue sudah dapat beritanya,” kata Asri, nyengir. Hahaha…

 
 

acarin03 Wrote On 26 Sep 2010
bodyguard terlalu,hahahah... tapi memang kebanyakan begitu kan??
jjangrosy Wrote On 09 Sep 2010
kekeke...lagi dong yaaa yang boyband2 korea gitu apa aja :p WGnya cuman 5? kenapa? ketinggalan berita nih --'
GongYoo Wrote On 08 Sep 2010
Haha..kadang managementnya emg rese...segitu pelitnya gboleh disenggol sama sekali bintangnya...sama tuh waktu KIM BUM jg gt, masa cupika cupiki aja gboleh...even yg menang kuis n cm 1 orang!!Najong
ddiiaann Wrote On 24 Jun 2010
plis deh, jgn lebai.. seharusnya lo nyanyi itu depan bodyguard-nya, hihi..
Dengan Meng-klik tombol 'kirim' berarti kamu telah menyetujui Privacy Policy dan Disclaimer Kami.