Gadis Sampul tahun lalu, aku bertugas jadi chaperone.
Chaperone itu adalah orang yang bertugas mengawasi dan memboyong kemana-mana
para GADIS Sampul pergi sesuai jadwal yang telah ditentukan. Banyak banget
kisah lucu yang aku dapat dari situ. Misalnya Judith finalis asal Palembang
yang hobi nyanyi ga berhenti, Gita Sucia finalis dari Bandung yang baweeel
banget dan selalu menyamber omongan kaya bensin, atau Veronica finalis asal
Jakarta yang justru jadi nggak pede ketika tahu ada banyak banget pendukungnya
yang datang untuk menyoraki. Hihihi didukung kok malah jadi jiper. Kalau
dikenang lagi jadi pengin ketawa sendiri, deh.
Tapi
dari semua finalis GADIS Sampul 2009, aku paling ingat dan nggak akan melupakan
Sarah Venezia finalis asal Mataram. Kenapa aku selalu ingat dengan dia? Begini
ceritanya…
Selayaknya
finalis GADIS Sampul lainnya, Sarah itu adalah cewek yang cantik. Tapi
sayangnya dia malah nggak pede dengan kecantikan yang ia punya. Ia menganggap
kulitnya yang hitam bersih itu adalah kekurangan dirinya. Makanya sepanjang
karantina ia suka menyendiri dan cenderung kikuk kalau mau melakukan apa pun.
Sejujurnya
aku dan para chaperone lainnya jadi suka sebel dengan finalis yang suka nggak
pede dengan dirinya sendiri. Karena kalau sepanjang karantina ia merasa nggak
pede, maka ia akan kurang bisa menunjukkan potensi dalam dirinya yang akan
dijadikan penilaian sepanjang karantina. Ketika para chaperone beramai-ramai
menanyakan apa yang membuat ia nggak pede, cewek yang masih duduk di bangku SMA
1 Mataram itu mengaku kalau kulitnya yang ‘berbeda’ membuat ia merasa seperti
orang yang asing.
Saat
mendengar itu, rasanya aku puengeeeeeeen banget marah dan menyemburkan bola api
kame-hame-ha ke muka Sarah. Abis aku sebel banget! Kok bisa-bisanya sih Sarah
merasa dirinya itu nggak cantik? Memangnya selama ini dia pikir seluruh panitia
GADIS Sampul salah memilih dia menjadi finalis dari sekian banyak ribu yang
mengirim formulir? Kok Sarah nggak melihat sih kalau dirinya itu punya badan
yang bagus banget untuk jadi model catwalk? Kok dia pikir kita malah diam-diam
mengejek warna kulitnya di belakang, padahal kita justru menganggap itu warna
yang sangat cantik? Tapi aku tahan emosiku. Dan keesokan harinya aku mendapat
ide untuk membuat Sarah tambah pede.
Esok
harinya…

Sementara
menunggu pemotretan (yang ke sekian kalinya) di karantina itu, aku memanggil
Sarah untuk aku ajak ngobrol empat mata. Aku tunjukan tumpukan majalah yang
memuat wajah Laura Mulyadi ke Sarah. Siapakah Laura Mulyadi itu? Laura adalah
model Indonesia yang berkulit hitam legam dan kurus tinggi. Namun justru karena
kulitnya yang hitam tersebut, ia mendapat perhatian khusus dari dunia mode
Indonesia. Ia bahkan sempat menjadi model favorit pilihan disainer di ajang
Jakarta Fashion Week 2009. Kebayang dong dari sekian banyaknya model yang
terlibat di salah satu ajang fashion terbesar di Indonesia itu, para disainer
malah memilih seorang cewek yang berkulit hitam legam diantara begitu banyaknya
model lain berkulit putih dan mulus.
Aku
ceramahin Sarah dengan semua info itu. Tidak lupa aku buka halaman internet
yang meliput penghargaan disainer itu kepada Laura Mulyadi. Aku juga memampangkan semua halaman majalah
yang menunjukkan wajah Laura Mulyadi menjadi modelnya. Aku juga menyuruh Sarah
benar-benar melihat sebuah halaman mode di majalah Femina dimana Laura Mulyadi
menjadi model bersama-sama model berkulit putih lainnya. Lalu aku bilang begini…
“Coba
lihat majalah ini. Di sini ada banyak model. Ada yang berkulit putih dan hitam.
Sekarang coba kamu kasih tunjuk sama aku mana model yang langsung mencuri
perhatian matamu ketika membuka halaman majalah itu?”
Sarah
pun menunjuk wajah Laura Mulyadi.
“Kenapa
kamu tunjuk dia?” tanyaku lagi.
“Karena
kulitnya yg hitam langsung menarik perhatian,” jawab Sarah.
“Tuh
kan! Justru kulit yang berwarna lah yang membuat orang langsung tertarik untuk
melihat. Sekarang kamu lihat dia. Dan apakah kamu melihat dia sebagai cewek
yang nggak cantik?”
Sarah
menggelengkan kepala.
“Tuh kan!
Sekarang apa lagi alasan kamu untuk merasa nggak cantik?”
“Sebenarnya
kalau aku di Mataram aku pede aja kak dengan kulit begini. Karena di sana
teman-temanku kulitnya juga seperti ini. Tapi pas di sini dan melihat
teman-teman finalis yang lain nggak ada yang sehitam aku, aku jadi…..” kata
Sarah sambil menunduk.
“Sarah,
kamu lihat deh kulit aku. Aku kan juga nggak putih. Di keluargaku, aku ini anak
perempuan satu-satunya. Dan cuma aku yang terlahir dengan kulit hitam. Kebayang
nggak tuh gimana aku sedihnya melihat abang dan adikku yang cowok ternyata
malah berkulit lebih putih dari aku. Dulu aku juga sempat nggak pede. Apalagi
banyak banget teman-temanku sengaja ke dokter kulit biar bisa mencerahkan warna
kulitnya. Aku iri banget sama mereka. Tapi semakin aku dewasa, aku jadi sadar
kalau masih banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan selain warna kulit. Karena
aku udah menerima warna kulitku dan aku pede dengan warna ini, ternyata malah
banyak orang yang memuji warna kulitku. Katanya kulitku bagus. Padahal aku sama
sekali nggak pakai produk pemutih apapun. Yang penting kulitku bersih dan
sehat. Intinya, aku tahu banget gimana rasanya jadi cewek hitam.
Sekarang
coba kamu berpikir begini… Dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, berapa
banyak sih cewek yang berkulit putih? Banyakan mana sama cewek yang berkulit
hitam? Pasti lebih banyak cewek yang berkulit hitam kan?”
Sarah
mengangguk.
“Nah,
kenapa kamu nggak jadi cewek pelopor yang mewakili semua perempuan berkulit
hitam di Indonesia bahwa cewek dengan kulit gelap bisa juga jadi GADIS Sampul,
terkenal dan berprestasi? Untuk itu kamu harus pede dengan dirimu sendiri. Siapa
lagi yang akan sayang sama tubuhmu kalau bukan dirimu sendiri? Ya nggak?”
Sarah
mengangguk.
“Ya
udah, kamu balik lagi kumpul sama ateman-teman finalis sana. Maaf ya kalau tadi
aku ngomong dengan sedikit nada emosi. Aku ngomong begitu demi kebaikan kamu
juga.”
“Nggak
apa-apa kok, kak,” kata Sarah dengan tersenyum.
Hari-hari
karantina berikutnya, aku memang melihat perubahan dalam diri Sarah. Dia tetap
menjadi finalis yang pendiam dan penurut, tapi aku bisa melihat dari gerak-geriknya
ia sudah nggak malu lagi dengan kulitnya. Banyak juga stylist yang memuji
perubahan diri Sarah secara diam-diam. Katanya wajah Sarah di kamera terlihat
lebih menarik dari biasanya.
Dan
ketika malam penobatan GADIS Sampul 2009 aku mendengar nama Sarah Venezia
disebut sebagai Runner Up II GADIS Sampul, dalam hati aku girangnya bukan main!
Tapi rasa senang itu aku tutupi karena sebagai chaperone sungguh nggak etis
kalau aku menjagokan salah satu dari finalis yang seharusnya aku perlakukan
sama. Namun aku nggak bisa memungkiri kalau aku begitu senang ada cewek berkulit
hitam yang menjadi juara di ajang yang diikuti oleh ribuan cewek seluruh
Indonesia. Aku yang berkulit hitam merasa bahagia karena kulit hitam ini memang
diakui kecantikannya oleh seluruh negeri. Dan Sarah mewakili hal tersebut
dengan prestasinya.
Aku
harap semua cewek di Indonesia kini pede dengan warna kulitnya seperti Sarah
Venezia.
Hidup
Kulit Hitam!