Hidup Kulit Hitam!
19 February 2010 - 15:34 WIB    By : adistidaramutia
2

Gadis Sampul tahun lalu, aku bertugas jadi chaperone. Chaperone itu adalah orang yang bertugas mengawasi dan memboyong kemana-mana para GADIS Sampul pergi sesuai jadwal yang telah ditentukan. Banyak banget kisah lucu yang aku dapat dari situ. Misalnya Judith finalis asal Palembang yang hobi nyanyi ga berhenti, Gita Sucia finalis dari Bandung yang baweeel banget dan selalu menyamber omongan kaya bensin, atau Veronica finalis asal Jakarta yang justru jadi nggak pede ketika tahu ada banyak banget pendukungnya yang datang untuk menyoraki. Hihihi didukung kok malah jadi jiper. Kalau dikenang lagi jadi pengin ketawa sendiri, deh.

            Tapi dari semua finalis GADIS Sampul 2009, aku paling ingat dan nggak akan melupakan Sarah Venezia finalis asal Mataram. Kenapa aku selalu ingat dengan dia? Begini ceritanya…

            Selayaknya finalis GADIS Sampul lainnya, Sarah itu adalah cewek yang cantik. Tapi sayangnya dia malah nggak pede dengan kecantikan yang ia punya. Ia menganggap kulitnya yang hitam bersih itu adalah kekurangan dirinya. Makanya sepanjang karantina ia suka menyendiri dan cenderung kikuk kalau mau melakukan apa pun.

            Sejujurnya aku dan para chaperone lainnya jadi suka sebel dengan finalis yang suka nggak pede dengan dirinya sendiri. Karena kalau sepanjang karantina ia merasa nggak pede, maka ia akan kurang bisa menunjukkan potensi dalam dirinya yang akan dijadikan penilaian sepanjang karantina. Ketika para chaperone beramai-ramai menanyakan apa yang membuat ia nggak pede, cewek yang masih duduk di bangku SMA 1 Mataram itu mengaku kalau kulitnya yang ‘berbeda’ membuat ia merasa seperti orang yang asing.

            Saat mendengar itu, rasanya aku puengeeeeeeen banget marah dan menyemburkan bola api kame-hame-ha ke muka Sarah. Abis aku sebel banget! Kok bisa-bisanya sih Sarah merasa dirinya itu nggak cantik? Memangnya selama ini dia pikir seluruh panitia GADIS Sampul salah memilih dia menjadi finalis dari sekian banyak ribu yang mengirim formulir? Kok Sarah nggak melihat sih kalau dirinya itu punya badan yang bagus banget untuk jadi model catwalk? Kok dia pikir kita malah diam-diam mengejek warna kulitnya di belakang, padahal kita justru menganggap itu warna yang sangat cantik? Tapi aku tahan emosiku. Dan keesokan harinya aku mendapat ide untuk membuat Sarah tambah pede.

            Esok harinya…

           Laura Mulyadi

         Sementara menunggu pemotretan (yang ke sekian kalinya) di karantina itu, aku memanggil Sarah untuk aku ajak ngobrol empat mata. Aku tunjukan tumpukan majalah yang memuat wajah Laura Mulyadi ke Sarah. Siapakah Laura Mulyadi itu? Laura adalah model Indonesia yang berkulit hitam legam dan kurus tinggi. Namun justru karena kulitnya yang hitam tersebut, ia mendapat perhatian khusus dari dunia mode Indonesia. Ia bahkan sempat menjadi model favorit pilihan disainer di ajang Jakarta Fashion Week 2009. Kebayang dong dari sekian banyaknya model yang terlibat di salah satu ajang fashion terbesar di Indonesia itu, para disainer malah memilih seorang cewek yang berkulit hitam legam diantara begitu banyaknya model lain berkulit putih dan mulus.

            Aku ceramahin Sarah dengan semua info itu. Tidak lupa aku buka halaman internet yang meliput penghargaan disainer itu kepada Laura Mulyadi.  Aku juga memampangkan semua halaman majalah yang menunjukkan wajah Laura Mulyadi menjadi modelnya. Aku juga menyuruh Sarah benar-benar melihat sebuah halaman mode di majalah Femina dimana Laura Mulyadi menjadi model bersama-sama model berkulit putih lainnya. Lalu aku bilang begini…

            “Coba lihat majalah ini. Di sini ada banyak model. Ada yang berkulit putih dan hitam. Sekarang coba kamu kasih tunjuk sama aku mana model yang langsung mencuri perhatian matamu ketika membuka halaman majalah itu?”

            Sarah pun menunjuk wajah Laura Mulyadi.

            “Kenapa kamu tunjuk dia?” tanyaku lagi.

            “Karena kulitnya yg hitam langsung menarik perhatian,” jawab Sarah.

            “Tuh kan! Justru kulit yang berwarna lah yang membuat orang langsung tertarik untuk melihat. Sekarang kamu lihat dia. Dan apakah kamu melihat dia sebagai cewek yang nggak cantik?”

            Sarah menggelengkan kepala.

            “Tuh kan! Sekarang apa lagi alasan kamu untuk merasa nggak cantik?”

            “Sebenarnya kalau aku di Mataram aku pede aja kak dengan kulit begini. Karena di sana teman-temanku kulitnya juga seperti ini. Tapi pas di sini dan melihat teman-teman finalis yang lain nggak ada yang sehitam aku, aku jadi…..” kata Sarah sambil menunduk.

            “Sarah, kamu lihat deh kulit aku. Aku kan juga nggak putih. Di keluargaku, aku ini anak perempuan satu-satunya. Dan cuma aku yang terlahir dengan kulit hitam. Kebayang nggak tuh gimana aku sedihnya melihat abang dan adikku yang cowok ternyata malah berkulit lebih putih dari aku. Dulu aku juga sempat nggak pede. Apalagi banyak banget teman-temanku sengaja ke dokter kulit biar bisa mencerahkan warna kulitnya. Aku iri banget sama mereka. Tapi semakin aku dewasa, aku jadi sadar kalau masih banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan selain warna kulit. Karena aku udah menerima warna kulitku dan aku pede dengan warna ini, ternyata malah banyak orang yang memuji warna kulitku. Katanya kulitku bagus. Padahal aku sama sekali nggak pakai produk pemutih apapun. Yang penting kulitku bersih dan sehat. Intinya, aku tahu banget gimana rasanya jadi cewek hitam.

            Sekarang coba kamu berpikir begini… Dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, berapa banyak sih cewek yang berkulit putih? Banyakan mana sama cewek yang berkulit hitam? Pasti lebih banyak cewek yang berkulit hitam kan?”

            Sarah mengangguk.

            “Nah, kenapa kamu nggak jadi cewek pelopor yang mewakili semua perempuan berkulit hitam di Indonesia bahwa cewek dengan kulit gelap bisa juga jadi GADIS Sampul, terkenal dan berprestasi? Untuk itu kamu harus pede dengan dirimu sendiri. Siapa lagi yang akan sayang sama tubuhmu kalau bukan dirimu sendiri? Ya nggak?”

            Sarah mengangguk.

            “Ya udah, kamu balik lagi kumpul sama ateman-teman finalis sana. Maaf ya kalau tadi aku ngomong dengan sedikit nada emosi. Aku ngomong begitu demi kebaikan kamu juga.”

            “Nggak apa-apa kok, kak,” kata Sarah dengan tersenyum.

            Hari-hari karantina berikutnya, aku memang melihat perubahan dalam diri Sarah. Dia tetap menjadi finalis yang pendiam dan penurut, tapi aku bisa melihat dari gerak-geriknya ia sudah nggak malu lagi dengan kulitnya. Banyak juga stylist yang memuji perubahan diri Sarah secara diam-diam. Katanya wajah Sarah di kamera terlihat lebih menarik dari biasanya.

            Dan ketika malam penobatan GADIS Sampul 2009 aku mendengar nama Sarah Venezia disebut sebagai Runner Up II GADIS Sampul, dalam hati aku girangnya bukan main! Tapi rasa senang itu aku tutupi karena sebagai chaperone sungguh nggak etis kalau aku menjagokan salah satu dari finalis yang seharusnya aku perlakukan sama. Namun aku nggak bisa memungkiri kalau aku begitu senang ada cewek berkulit hitam yang menjadi juara di ajang yang diikuti oleh ribuan cewek seluruh Indonesia. Aku yang berkulit hitam merasa bahagia karena kulit hitam ini memang diakui kecantikannya oleh seluruh negeri. Dan Sarah mewakili hal tersebut dengan prestasinya.

            Aku harap semua cewek di Indonesia kini pede dengan warna kulitnya seperti Sarah Venezia.

            Hidup Kulit Hitam!

 
 

amandhagrhatiana Wrote On 20 Feb 2010
Aku juga setuju . Karena kulit aku juga hitam . hehehe
Meiliana Elisabeth Wrote On 20 Feb 2010
wah, betul itu! LIKE THIS! :)))
Dengan Meng-klik tombol 'kirim' berarti kamu telah menyetujui Privacy Policy dan Disclaimer Kami.