Katanya senyum itu bisa mencerahkan dunia. Senyum itu ibadah. Malah katanya senyum itu bisa bikin orang jadi jatuh cinta. Apakah benar? Pada kenyataannya, senyum itu juga bisa jadi pemicu pertengkaran, lho. Contohnya, senyum ke pacar orang. Atau nggak senyum ke orang yang lagi kesakitan ditimpa gajah. Wah gawat, tuh! Ditolongin dong, masa senyum-senyum aja kalau ngeliat orang lagi kena musibah. Huh!
Tuh kan, senyum nggak selalu jadi reaksi yang positif. Untuk membuktikan kebenaran sebuah senyum, mari kita bikin sebuah eksperimen kecil. Aku (yang merelakan jiwa dan raga setulus-tulusnya serta seikhlas-ikhlasnya) akan senyum ke beberapa orang di kantor yang sedang sibuk melakukan hal lain. Lalu kita lihat reaksinya. Mari kita mulai!
Lokasi: Lantai 4 Gedung Femina, tepatnya kantor Redaksi GADIS
Tanggal: Rabu, 9 Juni 2010
Pukul: 11.00 WIB
Turut mengundang: (Lah! Kok jadi kaya undangan kawinan??? Harap abaikan poin ini!)
Sampel eksperimen 1: Orang yang lagi sibuk bekerja di depan komputer
Target: Rictiany Lauwoie alias Yani Manise, Redaktur Madya
Hasil: Setelah disenyumin, sang target kembali tersenyum terpaksa dicampur bingung. Lalu bertanya, “Apa? Kok elo ketawa?”
Kesimpulan: Kalau kita senyumin orang lagi sibuk bekerja, mereka akan bereaksi senyum terpaksa. Karena mereka ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. Saking sibuknya mereka bekerja, mereka juga susah membedakan senyum dengan tertawa. Hmph..hmph..hmph…
Sampel eksperimen 2: Orang yang lagi makan
Target: Nilam Suri alias Nilamcuy, Redaktur
Hasil: Setelah disenyumin, sang target tidak balas senyum. Ia malah memandangi sang peneliti dengan bertanya-tanya. “Apa? Apa sih Adis? Gue masih ada utang ya?”
Kesimpulan: Kalau kita tersenyum kepada orang yang sedang makan, mereka akan susah tersenyum balik. Karena mulut mereka lagi penuh dengan makanan. Kalau mereka paksa senyum, mungkin akan jadi pemandangan yang kurang sedap untuk mata. Dan mereka cenderung akan mengasosiasikan senyum kita sebagai sebuah ‘penagihan’. Mungkin karena sang target belum bayar makanan yang sedang ia kunyah.
Sampel eksperimen 3: Orang yang lagi main blackberry
Target: Nadia Ayesha alias Dee Dee, Finalis GADIS Sampul 2010 (ditemui saat sedang menunggu jadwal pemotretan)
Hasil: Setelah disenyumin, sang target ikut tersenyum-senyum bahkan tertawa. “Apa? Ada apa mba Adis?”
Kesimpulan: Senyum kepada orang yang lebih banyak bergaul di dunia maya bisa membawa kebahagiaan tersendiri kepada mereka. Karena mereka bisa melihat senyum asli manusia. Bukan senyum orang kuning botak yang sering tampil di layar handphone atau blackberry.
Sampel eksperimen 4: Orang yang lagi baca
Target: Novi Susanti alias Mba Novi, Redaktur Eksekutif
Hasil: Setelah disenyumin, sang target tersenyum balik dengan ramah. Lalu bertanya, “Ada apa?”
Kesimpulan: Membaca bukan hanya sangat baik untuk otak, tapi juga untuk budi pekerti. Terbukti dari keramahan yang ditampilkan oleh sang target.
(NB: Ekperimen ini dilakukan dengan seobyektif-obyektifnya. Pujian yang dilontarkan oleh sang peneliti nggak ada hubungannya dalam keinginan terselubung sang peneliti untuk naik gaji. Sungguh! Percayalah padakuh! Ya ampuuun… kok pada nggak percaya sih? Ini beneran lho! He-eh….he-eh….beneran! Asli! Sumpah! Iiiiiiih kok pada nggak percaya sih?...... Ini udah capek ngetik panjang-panjang kok tetep nggak percaya sih?...... Ya udah deh, terserah! Pada gitu ya ama gue? Ooooh gitu? Gitu? Ok! OK Fine!)
Sampel eksperimen 5: Orang yang lagi ngobrol
Target: Faradita Ayuningtyas alias Farjuice yang sedang ngobrol sama Savitri alias Uthie Yang (konon) Kasar
Hasil: Para target merasa sangat terganggu dengan kehadiran serta senyum manis dari peneliti. Reaksi pertama keluar dari mulut Uthie, “Ni lagi orang! Ngapain sih?”. Lalu dilanjuti dengan Farjuice, “Apa sih? Mau nagih uang pulsa ya?”
Kesimpulan: Orang yang sedang ngobrol memang membutuhkan privasi tersendiri. Makanya mereka tidak senang kalau ada orang yang tiba-tiba menghampiri lalu melontarkan senyum yang lebih manis dari yang mereka punya.
Orang yang sedang ngobrol juga cenderung mencari motivasi orang yang datang menghampiri mereka. Hal ini terbukti dari Farjuice yang mencoba menerka apa motivasi sang peneliti. Walaupun terkaannya meleset, tapi memang benar kalau Farjuice masih punya utang pulsa terhadap sang peneliti. Tepatnya sebesar ……. Eh udah nggak ada deng. Ini artinya membuktikan juga kalau Farjuice suka GR.
Sampel eksperimen 6: Orang yang baru keluar toilet
Target: Nurhasanah alias Nanachan, Sekretaris Redaksi
Hasil: Sang target langsung membalas senyum dengan wajah lega. Ia juga sempat bertanya, “Kenapa kamu?” Tidak jelas apakah senyum kelegaan yang dilontarkan sang target karena lega melihat senyum sang peneliti yang sangat manis, atau memang ‘senyum lega karena telah membuang beban hidup di jamban’.
Kesimpulan secara keseluruhan:
Senyum itu menyimpan seribu makna. Oleh karena itu sebuah senyuman bisa menghasilkan seribu reaksi pula. Walaupun senyum bisa menimbulkan reaksi negatif, tapi kalau kita melakukannya dari hati, gunung es pun bisa meleleh. Maka tersenyumlah dari hati. Jangan dari jauh, soalnya nggak kelihatan
Ttd
Adisti Daramutia, Sang Peneliti Yang Punya Senyum Semanis Madu
