Sekitar seminggu
yang lalu seorang teman sempat datang super telat. Tumben-tumbenan,
lho. Ternyata kereta, kendaraan andalannya, mogok. Jadilah Si teman
yang rumahnya di BOGOR itu harus bersusah payah untuk sampai ke
markas kita di Kuningan. Menjelang makan siang, akhirnya, si teman
tersebut sampai. Ia pun menceritakan kronologis peristiwa
“perkeretaan” tersebut plus gimana caranya dia sampai.
“Untungnya,….” kata si temanyang
kira-kira mau menceritakan bahwa untung saja di tengah berbagai
kekacauan mogok kereta akhirnya ia bisa menemukan taxi, biarpun susah
payah. Tapi belum selesai, ia bercerita, teman tersebut menambahkan..
“Untungnya” lagi, emang
dassar ya gue orang Indonesia banget. Udah kejadian naas segitunya
masih aja ada “Untung”nya….hahaha,”
Gue jadi inget cerita tentang Si
Sayang dan Si Untung (bukan nama sebenarnya-red), hehe… Pokoknya
ada dua orang cewek yang duduk di sekolah dan kelas yang sama, malah
mereka lahir di hari yang sama. Pokoknya banyak kesamaan diantara
mereka, kecuali nasib mungkin.
Hari itu mereka
sama-sama ulang tahun. Si Sayang yang menjadi kesayangan keluarga
sudah tentu mendapatkan pesta teristimewa. Halaman belakangnya yang
luas di sulap sebagai area open air party. Si Untung juga
datang ke ulang tahun Sayang. Soalnya, untung nggak cukup beruntung
bisa merayakan ulang tahun sweet 17 nya. Cukup ucapan selamat ala
kadarnya dari ortu dan adik semata wayang.
Wajah Sayang yang terpoles sempurna
malam itu sempat agak gusar sejenak. Ternyata ia bicara dalam
hati…”Hmmm… my Sweet17 party. SAYANG, gue nggak bisa
ngerayain di hotel kayak mimpi gue.”
Untung pun juga berkata dalam hati.
“UNTUNG aja gue datang ke pesta ini. Biarpun ulang tahun gue nggak
dirayain, tapi gue seneng banget bisa ngerasain acara ini”
Nah, saat tiup lilin, Sayang yang
didampingi Jo- pacarnya-
Meniup lilin coba make wishes
“Baik banget, ya si Jo sudah ngasih kue spesial untuk gue. Dia
emang pacar yang oke, ganteng, pengertian…SAYANG..kenapa sih da
nggak tinggi. Padahal gue yakin banget prince charming gue itu
yang tinggi, sporty, pemain basket gitu. Kenapa cewek-cewek lain bisa
dapetin cowok yang sempurna. Nggak kayak gue”
Di saat yang hampir bersamaan, Untung
pun ikutan berdoa dalam hati dan dari kejauhan. Soalnya, kan hari
ulang tahunnya sama, jadi mungkin magic spell-nya bisa untuk
berdua, hehe… Gumam Untung “Semoga tahun ini akhirnya gue bisa
punya cowok…nggak cuma sekedar deket terus nggak berlanjut…Kayak
Vino yang anggep gue teman. Tapi, UNTUNG juga, ya gue ketemu Vino.
Biarpun gue kecewa, at least dia bikin gue tahu rasanya sayang
sama cowok.”
“Selamat, ya Say. cantik banget, deh
kamu malam ini. Pangling banget!” Segerombolan cewek menyapa
Sayang. Sayang memang seneng banget atas segala perhatian yang
ditujukan padanya… pokoknya semua berjalan nyaris sempurna.
SAYANGNYA, ada beberapa undangan yang dia yakin nggak tulus, bahkan
kesini hanya untuk “menilai” dirinya. SAYANGNYA lagi, meskipun
banyak orang memuji penampilannya, ia tahu banget untuk “level”
sempurna, ia masiiiih jauuuuuuh banget. Bodynya nggak se keren
Vinda, wajahnya nggak mulus berat kayak Sisy…meskipun beribu orang
memuja, ia tetap tahu dimana kekurangan dirinya.Huh!
“Wah, cantik banget ya si Sayang!”
Untung berdecak mengagumi temannya itu. Penampilannya Untung sendiri
memang tergolong kelas biasa-biasa saja, nggak ada yang istimewa.
Namun komentar beberapa orang saja tentang ia yang tampil manis
dengan rok cukup melambungkan hatinya. “UNTUNG saja aku pilih rok
ini, biarpun modelnya udah out of date tapi gue masih lumayan
pantas pakainya.Maklum koleksi “baju cewek” gue kan minimalis”
pikir Untung.
Malam harinya, Untung tidur pulas.
Seharian ini memang cukup melelahkan baginya. Dari harus remed dua
pelajaran di pagi harinya, baju yang sudah dia siapkan untuk ulang
tahun Sayang nggak sengaja dicuci ibu, sampai terpaksa harus nunggu
lama di depan halte sekolah untuk bisa nebeng ke ulang tahun Sayang.
Tapi inipun hari ulang tahunnya. Biarpun sama sekali nggak dirayakan
ia merasa sangat BERUNTUNG punya keluarga yang selalu ingat. Bahkan
ia pun cukup BERUNTUNG sempat merasakan ulang tahun temannya Sayang.
Masalah remedial, ia memang bukan siswa yang cemerlang, tapi ia yakin
kok ia bisa memperbaiki. UNTUNG saja gurunya masih memberinya
kesempatan. Tersenyum dalam tidurnya, Untung merasa jadi orang paling
BERUNTUNG di dunia.
Sementara Sayang juga sudah tertidur
di ranjangnya yang amat nyaman. Hari ini hari yang istimewa untuknya.
Ada kado istimewa dari orang terdekat, pesta luar biasa, dan
penampilan Sayng cantik jelita. Sayang memang nggak jadi “Sang
Putri Sehari”. Karena kalau diperhatikan, hari-hari lain ia sama
“bersinar”nya, kok. Punya banyaaak teman, nilai bagus, wajah di
atas lumayan, pacar rupawan….dan wan-wan lainnya. SAYANGYA, menurut
sayang, ia nggak cukup pintar sampai-sampai ia nggak pernah menembus
rangking dua besar selama SMA, ia pun MENYAYANGNKAN satu dua jerawat
yang doyan banget tampil di wajahnya, Punya Pacar yang ia sangat
sayang, tapi SAYANGNYA bukan soulmatenya, dan segala macam rencananya
yang nggak pernah bisa 100 persen sesuai rencana. “Hidup
benar-benar nggak adil” jerit Sayang dalam benaknya. Bantal bulu
angsa Sayang pun masih lembab berkat air mata yang menemaninya hingga
tertidur tadi. Dalam mimpi pun Sayang masih terisak.
So, mau jadi Si Sayang atau Si
Untung?