Jadi Wasit Sobat vs Mantannya

by :
Posted : May 6, 2010
Sobat dan pacarnya putus? Itu, sih biasa.  Tapi, gimana kalau si mantannya juga merupakan teman kita?

Masalahnya pun menjadi makin gawat saat mereka berantem dan menempatkan kita di tengah-tengah sebagai wasit. Oh No! Jangan khawatir, inilah peran penting yang harus kita mainkan.  

Perseteruan 1:
Mantannya sobat selingkuh, dan sejak saat itu mereka kayak anjing dan kucing. Sobat kita benci setengah mati, sedangkan si mantan merasa bersalah tapi juga nggak membuat keadaan jadi lebih baik.
Tindakan Wasit = Kartu Kuning
Artinya: Nggak usah berharap bahwa mereka harus baikan. Soalnya memang kesalahan si cowok terbilang fatal. Harus diingat kalau saat ini sobat benar-benar membutuhkan kita. Jadilah pendengar yang baik. Nggak perlu ikutan memanasi sobat. Sebaliknya, pelan-pelan ingatkan sobat untuk nggak menyimpan dendam serta amarah ke cowok itu.

Perseteruan 2:
Teman kita yang selingkuh. Alhasil, pacarnya murka berat dan ngajak teman lainnya untuk ikutan musuhin sobat kita.
Tindakan wasit: Kartu Kuning
Artinya: Teman yang baik bukanlah yang selalu membela sahabatnya. Tetapi yang juga bisa mengatakan kesalahan si teman dan berusaha memberi solusi. Yap, kita bisa terus terang mengatakan bahwa ia telah melakukan kesalahan dengan berselingkuh, dan pantas kalau si cowok marah. Tapi, kasih kesempatan pada sobat untuk mengungkapkan apa yang ia pikir dan rasakan. Bantu dia untuk menyelesaikan masalah.
 
Perseteruan 3:
Pasangan ini punya kasus berat, dan pisahnya pun nggak baik-baik. Kini keduanya saling berperang, kalau bertemu selalu adu mulut. Parahnya lagi, mereka berdua menjelekan satu sama lain ke seantero sekolah.
Tindakan wasit: Kartu Merah!!!
Artinya: Kita berhak menegur keduanya. Kalau perlu panggil keduanya bersamaan dan katakan terus terang kalau tindakan mereka yang saling menjatuhkan dan menjelekkan kekanak-kanakan. Mendingan tantang mereka untuk bisa menyelesaikan masalah dengan dewasa alias dengan kepala dingin. Sampaikan juga, bahwa sebagai teman keduanya, kita merasa sangat sedih dan kecewa dengan peperangan ini. (Tisam)