Syukur [2]

by :
Posted : June 29, 2012

“Aduh!” kakiku masuk ke saluran air yang ada di jalan. Harusnya lubang air itu tertutup aspal, tapi karena aspal yang sedikit rusak jadi lubang itu menjadi malapetaka bagiku. Uhh… ingin rasanya aku menyalahan orang-orang di sekitarku, tapi aku sadar, itu adalah salahku karena aku kurang hati-hati. Malu, sakit dan ahh… ingin rasanya aku menangis!

Jeni mencoba memapahku, tapi sepertinya sia-sia. Tubuhnya yang kurus tidak kuat menopang badanku. Dan kakiku benar-benar tak bisa digerakkan. Tiba-tiba seorang tukang becak datang ke arahku dan segera membantuku. Memapahku ke pinggir dan membantu meluruskan kakiku. Aku meringis kesakitan.

“Ehm… gue telpon rumah lo dulu ya?” Jeni mulai panik.

“Percuma Jen, rumah gue lagi kosong,” seruku sambil terus meringis kesakitan.
 
“Coba adek gerakkan kakinya perlahan,” kata bapak becak itu. Aku mencoba menggerakan perlahan kakiku tapi tidak berhasil. Semakin kakiku digerakkan rasanya semakin sakit.
Bapak becak itu kemudian mengambil sesuatu dari kotak yang ada di becaknya, beliau mengambil balsem.

“Maaf dek, mungkin ini sedikit sakit, ditahan sebentar ya. Semoga ini bisa melemaskan kaki adek yang terkilir,” katanya. Aku mengangguk.

“Aww...” aku mengerang kesakitan. Bapak becak itu mulai mengurut telapak kakiku. Aku benar-benar ingin menangis, tapi malu. Jeni mencoba menguatkanku, tapi kulihat wajahnya juga ikut meringis, seakan merasa apa yang kurasakan. Sepuluh menit kemudian, bapak becak tadi menyuruhku menggerakkan pergelangan kakiku. Akhirnya sedikit-sedikit mulai bisa kugerakkan.

“Semoga besok kaki adek nggak bengkak ya, nanti sampai rumah dibuat istirahat dulu.”

Beberapa saat kemudian, bapak becak tadi berkata, “Rumah adek dimana? Biar nanti bapak antar.”

Akhirnya aku dan Jeni diantar oleh bapak becak. Dalam perjalanan menuju rumah, aku sibuk berkasak-kusuk dengan Jeni, tentang bagaimana cara membalas budi bapak becak atas kejadian tadi. Jeni menyarankan agar aku memberikan imbalan yang pantas kepada bapak becak tadi. Aku pun setuju dengan usul Jeni.

Setelah menurunkan Jeni, sampailah aku di depan rumah. Aku mempersilahkan bapak becak tersebut untuk masuk ke rumah. Namun bapak becak menolaknya dengan alasan dia harus segera meneruskan kerjanya lagi. Setelah aku mengucapkan terimakasih, aku menyerahkan sejumlah uang. Namun, lagi-lagi, bapak becak menolak sambil berkata, “Saya ikhlas kok nolong adek.”

Aku pun memaksa, berkilah bahwa uang tersebut adalah sebagai ganti ongkos becak karena telah mengantarku sampai rumah. Tapi, bapak becak tetap menolak. “Saya ikhlas dek...”

Lalu bapak becak itu pamit pulang.

Sebelum pergi, bapak becak berkata padaku, “Lain kali harus lebih berhati-hati ya dek, bersyukurlah untung kaki adek nggak kenapa-napa, cuma sedikit terkilir.”

Sesaat aku termenung. Sungguh, siang ini aku mendapat pelajaran berharga untuk tidak mengharapkan imbalan untuk sesuatu yang kita perbuat. Mungkin ini juga menjadi pelajaran bagiku yang sesiangan ini mengeluh, untuk tetap bersyukur atas semua yang telah Tuhan berikan padaku. *** Avy Setya Dewi